close
divahoki88.com
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Oktober 2012

Hmm... Mengapa Lagu Dewasa tak Pantas Dinyanyikan Anak

Musik menjadi materi hiburan yang sangat universal. Banyak penelitian yang menjelaskan hubungan musik dengan kecerdasan hingga tumbuh kembang anak. Semua menunujukan korelasi yang positif. Musik bisa menjadi alat untuk menumbuhkan kemampuan komunikasi, emosi hingga sosial.

Pantaskah Anak menyanyikan lagu dewasa (foto:ehow)
Tapi pertanyaannya kemana musik anak saat ini? Sekarang anak-anak lebih suka menyanyikan lagu orang dewasa. Apakah ini punya dampak buruk?

Karina Adistiana, M.Psi, Psikolog Pendidikan sekaligus pendiri gerakan Peduli Musik Anak mengatakan, “ Musik anak itu banyak dan ada, hanya saja orang dewasa tak mau mencarinya.”

Selasa, 24 Juli 2012

Tips Mengetahui Gigi Bayi Rusak Akibat Botol Susu

Kebiasaan menyusui bayi dengan botol susu pada waktu tidur dapat membuat bayi mengembangkan pembusukan gigi. Hal ini dikarenakan gigi mengalami kontak dengan susu dalam waktu yang lama dan mengakibatkan kerusakan gigi.

Susu Botol Dapat Merusak gigi (foto:pregnancyneeds.net)
Kerusakan gigi karena botol susu dapat menyebabkan banyak gangguan pada perkembangan bayi jika diabaikan. Hal ini tidak hanya mempengaruhi bayi secara fisik tetapi juga mempengaruhi pertumbuhan mental bayi.

Bayi yang sering mengalami pembusukan gigi adalah bayi dalam kelompok usia 18 bulan sampai 3 tahun. Air liur yang ada dalam mulut bayi bertujuan untuk mencegah kerusakan gigi dengan mempertahankan pH mulut. Ketika bayi sudah tertidur, produksi air liur berhenti dan menyebabkan membusuknya dari enamel.

Berikut gejala kerusakan gigi karena botol susu, seperti dilansir onlymyhealth, Selasa (24/7/2012) antara lain:

1. Gigi mengalami perubahan warna
Gigi yang menguning merupakan tanda-tanda kerusakan gigi yang paling umum. Karena pertumbuhan mikroba, enamel gigi menjadi ternoda dan mengakibatkan perubahan warna pada gigi.

Warna hitam dan bintik-bintik berwarna coklat pada gigi merupakan tanda awal pembusukan. Jika tidak dikontrol dengan baik, gigi bayi akan menjadi hitam dan mudah tanggal.
2. Peradangan pada gusi
Tanda awal dari pembusukan gigi karena bayi yang selalu ditidurkan dengan minum susu dari botol adalah peradangan pada gusi. Hal ini terjadi karena akumulasi bakteri dekat gusi menyebabkan kemerahan dan pembengkakan pada gusi.
3. Rasa sakit pada gigi
Pembengkakan gusi dapat menyebabkan rasa sakit pada gigi bayi karena akar gigi dalam gusi juga terkena infeksi bakteri. Rasa sakit awalnya hanya terjadi saat makan, tapi kemudian infeksi dapat berkembang dan menyebabkan rasa nyeri yang persisten pada gigi.

Nyeri ini membuat bayi Anda menolak untuk makan atau minum apa pun, sehingga akan mengganggu kesehatan dan menghambat pertumbuhannya.
4. Kesulitan dalam makan dan berbicara
Peradangan dan sakit di gusi juga mempengaruhi kemampuan berbicara dan makan bayi. Bayi akan mengalami nyeri ketika membuka mulutnya dan kesulitan mengunyah makanan.
5. Gangguan tidur
Gigi sakit menyebabkan gangguan pada tidur bayi. Karena tidur yang terganggu oleh rasa sakit, bayi akan menunjukkan perubahan suasana hati dan terus-terusan menangis.
6. Penurunan kapasitas belajar
Bayi akan kehilangan daya konsentrasinya karena rasa sakit yang terus menerus, sehingga mengurangi kemampuannya untuk belajar hal baru. Suasana hati yang berubah-ubah membuatnya rewel sepanjang waktu dan tidak memungkinkan untuk belajar apapun.

Sumber : health.detik.com

Selasa, 17 Juli 2012

Beberapa Alasan Anak Malas Masuk Sekolah

Banyak ditemui seorang anak merasa takut kembali bersekolah ketika tahun ajaran baru. Pada beberapa kasus, sekolah dianggap sebagai hal yang mengerikan bagi anak sehingga ia melakukan segala upaya agar tak kembali ke sana.

Alasan Anak malas ke sekolah (foto:raisingthefawn)
"Kecemasan adalah hal yang paling banyak menyebabkan anak-anak enggan kembali ke sekolah. Mengabaikan masalah ini akan menyebabkan masalah menjadi serius di kemudian hari, misalnya mengganggu prestasi dan tumbuh kembang anak," kata Anne Marie Albano, profesor psikiatri di Columbia University seperti dilansir New York Times, Senin (16/7/2012).

Beberapa hal yang membuat anak malas ke sekolah antara lain:

1. Takut dengan lingkungan sekolah
Beberapa anak menolak untuk pergi ke sekolah karena memiliki ketakutan tertentu terhadap guru, teman sebaya atau hal lain dari lingkungan sekolah. Bisa jadi anak-anak ini menjadi korban bullying, kurang nyaman dengan metode pengajaran, atau takut dengan mata pelajaran tertentu.

Jika hal ini terjadi, biacarakan dengan baik apa yang membuat anak takut. Jangan remehkan ketakutan anak sebab anak butuh dukungan. Bicarakan dengan pihak sekolah mengenai ketakutan anak yang disebabkan karena lingkungan sekolah.
2. Kurang bisa bersosialisasi dengan teman
Ada anak-anak yang cenderung merasa bahwa orang lain melihat dirinya secara negatif. Akibatnya, anak ini menghindari situasi sosial karena takut orang lain mengejek di belakangnya. Beberapa anak ada yang memang bermasalah dengan teman sebaya atau diejek oleh anak nakal.

Ajarkan anak perilaku sosial yang efektif. Misalnya, belajar mengatakan 'tidak' dengan tegas, mencari bantuan dari orang dewasa dan mencari teman baru. Ada baiknya meminta bantuan pihak sekolah untuk memperhatikan perilaku anak di sekolah.
3. Takut ditinggalkan orangtua
Anak-anak yang baru pertama kali masuk sekolah atau masih kecil saat masuk sekolah sering merasa takut jika harus jauh dari orangtua. Bisa juga terjadi jika ada orangtua yang sedang sakit, bertengkar, bercerai atau mengetahui anak lain yang kehilangan orangtua.

Untuk anak yang baru masuk sekolah, baiknya ditemani dulu beberapa jam selama beberapa hari. Yang paling penting, yakinkan anak bahwa orangtua akan kembali menjemput dan tepati janji waktu untuk menjemput.
4. Lebih suka tinggal di rumah
Anak menolak ke sekolah karena merasa tidak nyaman. Tapi seiring waktu, anak akhirnya memiliki keinginan untuk tinggal di rumah. Anak ini baru menyadari betapa menyenangkannya tinggal di rumah setelah menganggap sekolah membosankan.

Jangan membuat anak menganggap rumah lebih menyenangkan dibandingkan sekolah. Cobalah kurangi hal-hal yang membuat anak lebih memilih tinggal di rumah, misalnya video game. Berikan dukungan agar anak merasa sekolah sama nyamannya dengan rumah. 
5. Sulit bangun pagi
Beberapa anak ada yang benar-benar sulit bangun pagi sehingga sulit datang ke sekolah tepat waktu. Anak-anak yang mengalami hal ini biasanya mengalami depresi klinis atau menderita gangguan kecemasan dan perlu bantuan profesional. Beberapa obat yang menyebabkan kelesuan bisa jadi membuat anak sulit terjaga dan aktif di pagi hari. Jika ini terjadi, konsultasikan dengan dokter anak.
6. Mencari perhatian atau hadiah dari orangtua
Perilaku anak menolak pergi ke sekolah bisa juga disebabkan karena ingin menarik perhatian dari orangtua. Pada beberapa kasus, anak-anak baru mau pergi ke sekolah jika diberikan hadiah atau dituruti keinginannya. Orangtua seringkali terbujuk oleh rengekan anak.

Jangan selalu menuruti keinginan ini karena anak akan cenderung melakukan hal yang sama jika menginginkan sesuatu. Berikan hadiah jika anak berhasil mendapat peringkat bagus di sekolah, bukan agar mau berangkat ke sekolah. Orangtua perlu bersikap tegas.

Sumber : health.detik.com

Rabu, 27 Juni 2012

Tips Menjadi Orang Tua yang Bijaksana

Setelah menjadi orangtua, tanggung jawab Anda semakin berat. Anda harus bekerja setiap hari, mengurus rumah, serta membesarkan anak. Terkadang, aktivitas yang padat bisa menyebabkan anak kurang perhatian.

Menjadi Orang Tua yang Berkwalitas (Foto:picforparents)
Untuk itu, Anda perlu meningkatkan kemampuan sebagai orangtua dalam mendidik si kecil. Bagaimana caranya? Dilansir dari Lifestyle, perhatikan beberapa hal berikut yang akan membantu Anda mengurus anak.

1. Sharing dengan Teman yang Sudah Menjadi Orangtua
Anda perlu banyak bertanya serta bercerita dengan teman-teman yang sudah menjadi orangtua. Setiap orang pasti mempunyai pengalaman yang berbeda saat mengurus dan membesarkan anak. Pengalaman mereka bisa menjadi masukkan untuk Anda. Setelah mempunyai gambaran, coba terapkan cara tersebut kepada si buah hati.
2. Ajari Anak Perilaku Disiplin
Ajari anak perilaku disiplin. Setiap orangtua mempunyai metode disiplin yang berbeda. Namun, kuncinya tetap satu, memastikan anak mengetahui mana yang benar dan salah. Cara memastikannya dengan memberikan konsekuensi kalau anak berbuat salah. Berikan hukuman untuk memberitahukan mereka bahwa perilaku itu bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama, tapi Anda harus sabar demi perkembangan si kecil.
3. Berikan Contoh Secara Langsung
Anak mempunyai keingintahuan yang sangat besar. Makanya, mereka selalu mencontoh perilaku orangtuanya. Setiap yang Anda lakukan akan menjadi contoh hidup baginya. Jadi, ketika Anda memintanya untuk taat aturan, maka Anda pun harus melakukan hal yang sama. Misalnya, tidur tepat waktu, membiasakan diri mencuci kaki, tangan, serta menggosok gigi sebelum tidur. Jika Anda selalu melakukannya secara teratur, anak pasti mengikuti Anda dan terbiasa dengan hal itu.

Ketiga cara ini bisa membantu Anda ketika mengurus dan membesarkan si buah hati. Selain itu, Anda perlu merencanakan pendidikan formal untuk mereka agar memudahkan anak meraih kesuksesan, yang kemudian diimbangi oleh pendidikan moral dan tingkah laku dari Anda.

Sumber : wolipop.detik.com

Selasa, 26 Juni 2012

Tips Mengenali Tanda-tanda Bayi Sedang Sakit

Bayi yang berusia di bawah 6 bulan tidak dapat menunjukkan bahwa dirinya sedang berada dalam kondisi tidak sehat. Oleh karena itu, Anda harus lebih peka terhadap kondisi tertentu pada bayi yang mungkin dapat menandakan gejala suatu penyakit.

Mengenali Tanda bayi sedang sakit (foto:babyzone)


Berikut 8 tanda bahwa bayi sedang sakit, seperti dilansir dari sheknows, Selasa (26/6/2012) antara lain:

1. Demam
Demam bukanlah merupakan penyakit tetapi respon bayi terhadap penyakit tertentu atau yang paling umum adalah infeksi. Segera hubungi dokter jika bayi Anda yang masih berusia kurang dari 3 bulan mengalami demam dengan suhu di atas 37 derajat Celcius, atau jika bayi Anda berusia antara 3-6 bulan dan memiliki suhu di atas 38 derajat Celcius.

Bahkan jika suhu tubuh bayi lebih rendah dari pedoman tersebut tetapi muncul tanda-tanda seperti ruam, lekas marah, kesulitan bernapas, leher kaku, muntah atau diare persisten, segeralah memeriksakan kondisi bayi ke dokter.
2. Dehidrasi
Dehidrasi bisa terjadi jika pola pemberian ASI buruk, demam, lingkungan yang panas, muntah atau diare persisten. Anda dapat mengenali dehidrasi pada bayi melalui mulut dan gusinya yang kering, jarang pipis, tidak mengeluarkan air mata ketika menangis atau ubun-ubunnya sedikit tenggelam. Jika Anda berpikir bayi Anda mengalami dehidrasi, segera hubungi dokter.
3. Diare
Kondisi ini umum pada bayi, tetapi segera periksakan kondisi bayi ke dokter jika ada darah dalam tinja bayi, buang air besar lebih dari enam kali sehari dan tinja yang berair.
4. Muntah
Muntah pada bayi atau yang dikenal dengan 'gumoh' mungkin tidak serius jika itu terjadi hanya sekali atau dua kali. Namun, jika hal itu sering terjadi berulangkali, mengandung darah, muntahan berwarna hijau atau jika bayi tampak dehidrasi, segera hubungi dokter.
5. Kesulitan bernapas
Jika bayi Anda mengalami kesulitan bernapas, Anda harus segera menghubungi dokter. Tanda-tanda kesulitan bernapas adalah bayi bernapas lebih cepat dari biasanya, bayi terlihat seperti mendengus ketika menghembuskan napas dan bibir atau kulit bayi berwarna semburat kebiruan.
6. Pusar dan penis berwarna merah, keluar cairan atau perdarahan
Jika pusar bayi atau penis berubah warna menjadi merah, kemudian terjadi pendarahan, segera hubungi dokter. Hal ini adalah tanda-tanda infeksi.
7. Ruam
Ruam sangat umum terjadi pada bayi, tetapi segera hubungi dokter jika ruam telah mencakup area yang luas, terutama wajah, atau disertai dengan demam, perdarahan, pembengkakan, atau jika ruam tampak terinfeksi.
8. Pilek
Infeksi saluran pernapasan dapat disebabkan oleh virus dan sangat umum pada bayi. Kondisi ini biasanya berlangsung satu sampai dua minggu yang ditandai dengan demam, hidung meler, dan batuk. Gejala yang lebih serius memerlukan perawatan di rumah sakit.

Sumber : health.detik.com

Rabu, 20 Juni 2012

Hati-hati Jika Anak Diberikan Kebebasan Pakai Handphone

Sebagian besar alasan orangtua memberikan telepon genggam pada anak-anaknya adalah agar ia mudah dihubungi atau tahu dimana keberadaan si anak. Tapi seringkali orangtua tidak menyadari hal-hal lain yang mungkin timbul saat anak diberikan handphone.

Hati-hati dengan Handphone (i.telegraph.co.uk)
Berikut ini beberapa hal atau kondisi yang bisa terjadi jika anak diberikan kebebasan menggunakan handphone, seperti dirangkum oleh detikHealth, Senin (18/6/2012) yaitu:

1. Bahaya kesehatan terutama jika anak belum berusia 12 tahun
Anak bukanlah orang dewasa yang bertubuh kecil, jadi seharusnya memang tidak menggunakan handphone sebelum usia 12 tahun. Hal ini karena sistem kekebalan tubuh anak masih berkembang dan ia lebih sensitif terhadap hal-hal seperti ultraviolet atau radiasi dari telepon genggam.

Studi yang dilakukan peneliti Imperial College London mendapatkan anak berusia di bawah 12 tahun yang dibekali telepon genggam oleh orangtuanya paling rentan terhadap semua dampak negatif dari penggunaan handphone tersebut.
2. Anak jadi mengabaikan tanggung jawabnya untuk belajar
Salah satu tanggung jawab anak adalah belajar dan sekolah, tapi jika anak terlalu bebas menggunakan telepon genggamnya maka ia cenderung mengabaikan kewajibannya ini. Kondisi ini tak urung bisa membuat prestasi anak jadi menurun. Untuk itu beberapa ahli tidak menyarankan orangtua memberikan gadget canggih sebagai hadiah atas prestasi anak.
3. Tagihan membengkak
Kondisi ini dialami oleh remaja belia berusia 12 tahun, Oscar Rushen yang sedang tergila-gila menelepon pacarnya hingga membuat tagihan telepon ayahnya membengkak sampai Rp 25 juta. Hal ini tentu saja membuat sang ayah kewalahan membayar tagihan telepon sendiri, dan sang anak pun dilarang menggunakan handphone.

Jika memang orangtua ingin memberikan handphone untuk anaknya agar mudah dipantau atau dihubungi, sebaiknya berikan limit tertentu untuk pulsanya seperti prabayar sehingga bisa diatur penggunaan pulsanya.
4. Rentan terjebak oleh telepon premium
Anak-anak umumnya belum terlalu mengerti dengan berbagai macam SMS Premium yang muncul di handphone-nya, sehingga tak jarang banyak anak yang terjebak oleh SMS atau telepon premium ini. Untuk itu orangtua memiliki peran yang penting dalam memberitahu anak bagaimana cara menggunakan telepon genggam yang benar.
5. Anak jadi kurang suka bersosialisasi
Salah satu kebutuhan anak dalam memenuhi proses perkembangan dan pertumbuhannya adalah bermain dan sosialisasi dengan anak lain. Tapi anak yang sudah kecanduan telepon genggam cenderung lebih senang bermain dengan gadgetnya dibanding dengan anak-anak lain.

Tak jarang anak-anak ini jadi kurang suka saat harus bersosialisasi dengan anak-anak lain untuk bermain bersama, sehingga mempengaruhi perkembangan dan juga membuatnya tidak banyak melakukan kegiatan fisik.

Sumber : health.detik.com

Sabtu, 02 Juni 2012

Kebiasaan-kebiasaan Buruk Pada Anak yang Tidak Disukai Orang tua

Setiap anak pasti memiliki kebiasaan tertentu, tapi ada kalanya kebiasaan si kecil tidak disukai oleh orangtua, baik karena faktor kesehatan atau mengganggu penampilan. Kebiasaan apa saja itu?

Kebiasa'an Isap Jempol
Meski beberapa kebiasaan anak mungkin mengganggu atau mengkhawatirkan, tapi dalam kebanyakan kasus kebiasaan ini hanyalah salah satu fase dalam proses perkembangan yang normal dan tidak berbahaya.

Kebiasaan adalah suatu pola perilaku yang diulang dan orang biasanya tidak menyadari melakukan hal itu. Meski anak-anak tidak menyadari, tapi orangtua memperhatikan hal tersebut bisa membuatnya terganggu sehingga tidak disukai.

Berikut ini beberapa kebiasaan yang paling umum dijumpai pada anak-anak dan juga remaja, namun seringkali tidak disukai orangtua, seperti dikutip dari MSNHealth, Sabtu (2/6/2012) yaitu:

1. Menggigit kuku
Ini merupakan kebiasaan yang paling umum dimiliki anak-anak. beberapa penelitian memperkirakan sekitar 30-60 persen anak-anak dan remaja memiliki kebiasaan menggigit satu atau lebih kuku.

Pada tahun-tahun awal kelahiran baik anak laki-laki maupun perempuan memiliki kerentanan yang sama terhadap kebiasaan menggigit kuku. Namun ketika semakin bertambah maka anak laki-laki lebih mungkin memiliki kebiasaan ini ketimbang anak perempuan.
2. Menghisap jempol
Jempol memang lebih suka dihisap oleh anak ketimbang jari lain seperti telunjuk. Hal ini karena berkaitan dengan gerakan acak ibu jari yang bersentuhan dengan mulut saat masih di dalam kandungan.

Hampir seperempat dari setengah anak berusia 2-4 tahun memiliki kebiasaan mengisap jempol dan kebanyakan anak melakukan hal ini untuk menenangkan dan menghibur dirinya sendiri. Tapi jika masih terjadi sampai usia 4-5 tahun maka bisa menyebabkan masalah pada gigi atau infeksi ibu jari.
3. Memilin-milin rambut
Mayoritas anak-anak yang suka memilim-milin atau memutar-mutar rambutnya adalah anak perempuan. Kebiasaan ini mungkin muncul pada usia dini sebagai permulaan kebiasaan menarik-narik rambut. Tapi kebiasaan ini hilang ketika bertambah usia.

Namun jika kebiasaan ini dimulai ketika anak sudah bertambah usia atau remaja bisa jadi merupakan tanda dari kegelisahan, depresi atau gangguan ebsesif kompulsif (OCD).
4. Memetik hidung
Meskipun kebiasaan ini umumnya dimulai pada masa anak-anak, tapi sebenarnya bisa bertahan lama bahkan hingga ia dewasa. Bahkan salah satu studi menunjukkan kebiasaan ini bisa mempengaruhi pola makannya yang menjadi lebih pemilih (picky eater).

Sumber ; health.detik.com

Rabu, 30 Mei 2012

Menurut Anda Lebih Susah Merawat Anak Perempuan atau Laki-Laki...??

Setiap anak, baik itu laki-laki maupun perempuan memiliki kepribadian bawaan yang membentuk kehidupannya. Ada perbedaan dalam cara orangtua untuk menangani anak laki-laki dan perempuan sejak lahir.

Lebih mudah rawat anak Laki-laki atau Perempuan
"Otak dan pertumbuhan setiap jenis kelamin memiliki tingkat yang berbeda dan akan mempengaruhi perilaku antara anak perempuan dan laki-laki. Sehingga cara merawat anak perempuan dan laki-laki sangatlah berbeda," kata Leonard Sax, MD, penulis buku Boys Adrift.

Berikut 4 aspek yang membedakan perawatan terhadap anak perempuan dan laki-laki, seperti dilansir dari parenting, Rabu (30/5/2012) antara lain:

1. Disiplin
Lebih sulit untuk menerapkan kedisiplinan pada anak laki-laki darpada anak perempuan. Anak laki-laki tampak seperti tidak mendengarkan ketika diarahkan oleh orangtuanya.

Ternyata pendengaran anak laki-laki tidak sebaik anak perempuan sejak lahir. Pendengaran anak perempuan lebih sensitif dan pusat-pusat verbal dalam otaknya berkembang lebih cepat. Karena itulah seorang gadis cenderung memberikan respon yang lebih baik terhadap pujian atau peringatan orangtua yang mengisyaratkan kedisiplinan.
2. Keamanan fisik
Secara umum, anak laki-laki lebih kasar dan agresif. Sehingga orangtua memerlukan pengawasan ekstra terhadap anak laki-lakinya agar tidak mudah terluka karena tingkah aktifnya.

"Tetapi membiarkan anak-anak tetap aktif dapat membangun karakter, kepercayaan diri, ketahanan, dan kemandiriannya. Luka ringan adalah risiko alami, berilah arahan kepada anak laki-laki Anda untuk sedikit memperlambat aktivitasnya agar tidak berbahaya," kata Wendy Mogel, Ph.D., penulis The Blessing of a Skinned Knee.

Sebaliknya, anak perempuan juga butuh dorongan untuk lebih aktif untuk mengambil lebih banyak risiko agar karakternya terbangun dan tidak menjadi orang yang manja dan lemah ketika dewasa.
3. Komunikasi
"Sejak lahir, bayi perempuan cenderung lebih tertarik melihat warna dan tekstur, seperti pada wajah manusia, sedangkan bayi laki-laki ditarik lebih ke gerakan, seperti permainan yang berputar-putar," kata Dr Sax.

Singkatnya, anak laki-laki lebih berorientasi pada tindakan sedangkan anak perempuan lebih berorientasi terhadap sinyal nonverbal, seperti ekspresi dan nada suara. Anak laki-laki memiliki lebih banyak kesulitan untuk menyatakan perasaan dengan kata-kata.

Sementara kebanyakan perempuan mudah sekali berbagi perasaan dan rincian kejadian yang dialaminya kepada orang lain. Biasakan untuk mendirikan sebuah komunikasi terbuka dengan anak perempuan Anda sejak masih terbuka agar anak Anda tidak sungkan untuk meminta nasehat terhadap masalahnya ketika beranjak remaja.
4. Penghargaan terhadap diri sendiri
"Mengembangkan citra diri yang sehat sangat penting untuk semua anak. Tetapi anak perempuan cenderung tumbuh kurang percaya diri dan lebih aman daripada anak laki-laki," kata Carol Gilligan, Ph.D., seorang peneliti gender dan psikolog.

Citra terhadap tubuhnya adalah sebagian besar dari harga diri seorang perempuan. Tubuh dan penampilan sangat penting bagi perempuan bahkan ketika masih anak-anak. Sedangkan anak laki-laki cenderung cuek dengan penampilan dan merasa percaya diri akan apa yang telah dimilikinya.

Sumber : health.detik.com

Sabtu, 12 Mei 2012

Tips Atasi Perut Kembung Pada Si Kecil

BAYI yang baru lahir memiliki kondisi kesehatan yang kurang baik. Bayi kerap mengalami sembelit, perut kembung atau disentri karena sistem pencernaannya masih dalam pertumbuhan.
Tips Atasi Bayi Kembung
Lantas, bila si kecil mulai mengalami perut kembung, Anda perlu menerapkan beberapa langkah sederhana berikut, seperti dilansir BoldSky.

Tepuk punggung bayi dengan lembut

Setelah makan, Anda perlu menepuk punggung bayi dengan lembut sambil menggendongnya. Anda bisa melakukan hal ini selama satu sampai dua menit sampai bayi bersendawa. Kembung mulai berkurang ketika bayi bersendawa.

Gosok perut bayi

Untuk mengatasi kembung, Anda perlu menggosok perut bayi dengan lembut menggunakan minyak penghangat tubuh. Namun sebelum hal tersebut dilakukan, Anda harus membaringkan bayi terlebih dulu kemudian memijat perutnya dengan memberi sedikit tekanan. Langkah ini dapat mengatasi rasa kembung pada perut anak.

Beri air hangat

Bila perut bayi kembung, Anda perlu memberi sedikit air hangat untuk diminum. Anda jangan memberi air yang panas. Selain itu, Anda juga perlu memandikan bayi menggunakan air hangat. Langkah ini mampu memulihkan perut bayi yang kembung.

Waspada dengan susu formula yang dikonsumsi si kecil

Anda perlu waspada dengan susu formula yang dikonsumsi si kecil, sebab beberapa susu formula mampu membuat perut bayi kembung. Anda perlu mengamati apakah perut anak kembung setelah minum susu formula? Jika ya, maka Anda harus menghindari si kecil dari susu formula tersebut.

Membiarkan si kecil berolahraga

Anda perlu membiarkan bayi berolahraga. Salah satu olahraga yang dapat diterapkan dengan memegang kakinya kemudian menggerakannya secara perlahan. Langkah ini mampu meningkatkan pergerakan usus dan memudahkan bayi untuk membuang gas.

Membiarkan si kecil aktif bergerak

Anda dapat mengisi waktu luang dengan mengajak si kecil bermain. Anda perlu melibatkan bayi dalam kegiatan yang menyenangkan guna membantunya mengeluarkan gas yang ada di perut. Gerakan tubuh bayi yang semakin meningkat mampu membantunya mengeluarkan gas melalui sendawa

Sumber : health.okezone.com