Wanita memikirkan makanan dua kali lebih banyak dibandingkan seks.
Bahkan, makanan adalah satu-satunya hal yang dipikirkan wanita di pagi
hari dan hal terakhir yang dipikirkan di malam hari, adalah efek dari
makanannya.
 |
| Lansing Memanipulasi Otak |
Andy Puddicombe, penulis buku berjudul "The Headspace Diet",
mengklaim mampu mengubah cara Anda berpikir tentang makanan. Hal
tersebut bisa membantu Anda menurunkan berat badan hanya dalam waktu 10
hari.
Menurut Puddicombe, kunci untuk mengubah cara berpikir
tentang makanan dalam memanfaatkan kekuatan meditasi untuk membuat kita
lebih peduli. Seperti dilansir Daily Mail, ia mengatakan bahwa
kita harus membersihkan otak kita dari hal-hal yang bersifat negatif
seperti pesan-pesan yang tidak sehat, dorongan seputar makanan, serta
mengatur ulang tubuh dan mental kita.
Namun, untuk memulainya kita perlu mengidentifikasi termasuk food thinker
seperti apa kita, karena hanya dengan mengetahui dan mengakui pemikiran
negatif serta pola makan terkait. Kita dapat memulai menggunakan
kesadaran untuk mengatasinya. Jadi, food thinker tipe apa Anda?
The Nibbler
Anda
sangat senang mengemil, bahkan camilan harus selalu ada di dalam mulut,
tak peduli lapar atau tidak. Anda menolak diet-diet sehat, karena Anda
berpikir pola makan sudah baik. Sayangnya, pola makan Anda tidak
menurunkan berat badan.
Hal yang menjadi masalah adalah Anda
terus menerus berpikir tentang makanan berikutnya. Jika hal ini
terus-menerus berlangsung, Anda berada dalam masalah besar karena makan
terlalu banyak dan terlalu sering.
Tenang, Anda tidak perlu
menghentikan kebiasan mengemil. Tapi, Anda hanya perlu tetap pada pola
makan tiga kali sehari dengan tambahan dua waktu mengonsumsi camilan
sehat seperti buah. Selebihnya, segera berhenti mengunyah.
The Gorger
Meskipun
Anda putus asa dalam menurunkan berat badan, Anda tetap merusak diri
sendiri dengan mengonsumsi junk food. Bagi Anda, diet yang dijalani tak
akan pernah berhasil.
Masalahnya, pola ini dipicu oleh faktor
emosi. Anda akan merasa lapar ketika kesepian, cemas, kesal, atau bahkan
ketika senang. Tapi, dengan menyerah kepada hal tersebut Anda hanya
akan berahir pada kebencian terhadap diri sendiri.
Untuk
mengatasi hal ini, latihlah diri untuk meningkatkan kepercayaan diri dan
gunakan kesadaran Anda untuk melatih otak sehingga tidak lagi
menganggap makanan sebagai pelampiasan atau hadiah.
The Diet Junkie
Atkins,
Dukan, sup kubis sudah pernah Anda coba. Tak melihat nutrisi di
dalamnya, Anda hanya melihat makanan sebagai obat penurun berat badan
sehingga terus-menerus melakukan 'lompatan' diet.
Yang menjadi
masalah adalah kurangnya nutrisi dalam diet, menempatkan tubuh sebagai
parameter yang mengacu pada berat badan terakhir. Sehingga, Anda selalu
merasa tak puas dan merasa bersalah.
Solusinya, berhentilah
berpikir bahwa diet ekstrim akan membantu Anda mencapai kesempurnaan
fisik. Karena faktanya, hal tersebut tak akan membantu banyak.
Beralihlah ke diet yang seimbang dengan porsi yang lebih kecil.
The Binger
Anda
memiliki keinginan kuat dalam mengikuti aturan diet ketat dan 90 persen
makanan yang diasup adalah makanan sehat. Tapi, Anda bisa beralih dari
kontrol ekstrim ke hal-hal yang bisa merusak diri seperti mengonsumsi
asupan tinggi gula.
Masalahnya, kontrol makanan bisa menggagalkan
semua niat baik dan dapat memiliki efek adiktif. Pola makan ini sering
datang karena beban emosional, termasuk perasaan yang kuat dari rasa
bersalah dan malu. Tenang, mengombinasikan aturan ketat dengan asupan
teratur makanan 'terlarang' dapat menghentikan ketidakpastian diet
ekstrim Anda.
The Zombie
Anda makan
di luar kebiasaan dan rutinitas. Anda bahkan hampir tidak sadar apa yang
ada dalam mulut. Termasuk, cenderung mengonsumsi makanan olahan yang
tidak memiliki nilai gizi.
Cara untuk menghentikannya, berhenti
makan di depan televisi atau di meja. Sediakan waktu untuk berpikir apa
yang akan Anda makan. Makanlah makanan yang baik dan nikmati setiap Anda
mengunyah.
The Comfort Eater
Anda
makan karena alasan emosional. Termasuk, menggunakan makanan untuk
mengisi kekosongan emosional dan mengalihkan perhatian dari perasaan
yang menyakitkan. Anda menganggap makanan adalah hal yang dapat membuat
merasa lebih baik. Sayangnya, untuk sementara waktu.
Masalahnya,
Anda tidak berhubungan dengan sinyal lapar. Anda kerap menolak makanan
sehat dan seimbang dan lebih memilih makanan berkalori tinggi.
Solusinya, latihan kesadaran seperti berhenti sepuluh detik sebelum
memutuskan untuk mengonsumsi suatu makanan. Hal ini akan membantu
mengabaikan 'obrolan otak' yang mendesak Anda makan di saat yang tidak
tepat.
Sumber : kosmo.vivanews.com